Minggu, 30 Maret 2014

Filosofi Binatang


FILOSOFI BINATANG
Habibullah

Akhir-akhir ini warga Indonesia (umumnya) dan masyarakat Aceh (khususnya) sedang dihadapkan dengan pemilu yang akan datang, baik pemilihan Presiden maupun calon legislatif (caleg) untuk menduduki kursi panas yang bergoyang dalam mewakili daerah masing-masing, sehingga sebagian orang berlomba-lomba mendaftarkan diri sebagai calon presiden maupun caleg, baik melalui jalur independen ataupun melalui partai yang akan mengusungnya.
Sebelum dimulainya kampanye, masing-masing dari calon memikirkan buah hasil pemikirannya untuk dijadikan visi dan misi yang bersifat janji kepada masyarakat sehingga masyarakat akan merasa tertarik dan memilihnya dalam pemilu nanti.
Tetapi, apakah janji tersebut yang tertera dalam misi akan dipenuhi ?? inilah faktor yang menyebabkan masyarakat enggan dalam memilih (golput) karena trauma dengan pilihan mereka yang sudah-sudah dan mereka tidak ingin lagi termakan bujuk rayu janjian manis.
Ideologi yang terjadi sekarang ini dalam masyarakat bahwa sedikit sekali dan bahkan tidak ada lagi yang benar-benar ingin membenahi daerahnya dalam menunjang kesejahteraan hidup. Ini disebabkan karena para calon mengadopsi filosofi yang bersifat materialisme, bahwa tidak ada sesuatu apa pun kecuali dunia material, kebalikan dari makna la ilaha illallah. Filosofi yang seperti ini dapat menjadikan manusia berwatak egoistis, rakus dan hina dina, termasuk juga orang-orang yang mempertahankan kesalahan demi kehormatannya sendiri.
Filosofi seperti ini juga lah yang membuat seseorang lebih mengedepankan material demi kehidupannya untuk makan, minum dan seks. Kalau filosofi ini diadopsi oleh para calon, maka tak ada bedanya dengan filosofi binatang yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa melihat hak-hak, kepentingan dan kesengsaraan orang lain. Inilah yang menjadikan sebagian masyarakat berfikir bahwa para calon yang ingin duduk di kursi panas bergoyang semata-mata hanyalah untuk memperbaiki kehidupannya dan mencari kehormatan yang tinggi di mata masyarakat. Jikalau filosofi sudah menyatu dan melekat pada seseorang, maka ruang lingkup kehidupannya hanya terbatas kepada struktur material semata.
Akan tetapi sedikit sekali para calon yang terpilih yang menyadari pentingnya sarana-sarana material yang sudah didapatnya dalam hidupnya dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin dan menganbil keuntungan dari daya guna dan kekuatannya dan menyadari bahwa semua ini merupakan karunia yang dianugerahkan sang Khaliq terhadap dirinya dalam mengemban amanah orang lain.
Apabila para calon yang terpilih kelak memiliki kesadaran seperti itu, maka hal tersebut yang akan mendorongnya untuk menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan menghargai hak-hak dan mementingkan kepentingan orang lain dari pada kepentingannya sendiri. Bagi orang yang berfilosofi seperti ini, harta kekayaan dipandang hanya sebagai sarana, bukan tujuan. Materi dimanfaatkan demi menggapai keluhuran, kualitas moral dan spiritual yang lebih baik dan orang yang seperti inilah yang patut dikatakan sebagai pemimpin atau perwakilan yang mampu mengemban amanah dan bukan mengobral janji belaka.
            Penulis menyadari bahwa untuk menjadi pemimpin ataupun perwakilan rakyat bukanlah yang mudah tapi karena saudara sudah mendaftarkan diri sebagai calon pemimpin atau perwakilan rakyat, berarti anda sudah merasa mampu dalam mengemban amanah dan akan mementingkan amanah tersebut. Maka embanlah amanah tersebut sebaik mungkin dan hilangkan ideologi masyarakat terhadap buruknya kenerja pemimpin ataupun anggota dewan. Dan buang jauh-jauh filosofi binatang yang hanya mementingkan perut sendiri tanpa mementingkan perut orang lain.
            Dalam pemilihan yang akan datang, masyarakat harus lebih bijak dan benar-benar teliti dalam memilih calon. Masyarakat harus menggunakan kaca pembesar dari berbagai perspektif dalam melihat tingkah laku dan sikap sehari-hari para calon dan yang paling utama adalah ibadahnya kepada Allah, karena kalau para calon berani menipu Allah, sudah tentu dia akan berani menipu masyarakat, menyelewengkan amanah dan bertindak sewenangnya saja tanpa adanya musyawarah.
            Saya minta maaf apabila menyinggung pihak-pihak tertentu, penulis tidak ada maksud untuk menyinggu pihak tertentu, penulis juga hamba Allah yang mempunyai hak untuk mengungkapkan rasa kekecewaan dan tulisan ini semata-mata hanya untuk membangun spirit para calon ke depan dalam mewujudkan visi dan misi masing-masing. Penulis akhiri dengan beberapa bait syair :
Jangan mengumbar janji yang tak pasti
Yang membuat masyarakat berkhayal tingkat tinggi
Namun akhirnya menjadi mimpi yang tak pasti
Dan berujung halusinasi
Wallahu a’lam

Rabu, 30 Oktober 2013


URGENSI ILMU TASAWUF DI DALAM MASYARAKAT
 MODERN

Oleh: Habibullah
Mahasiswa Program Magister (S2) Konsentrasi Fiqh Modern
Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

A.    Ilmu Tasawuf
Pemahaman terhadap wacana agama tidak hanya dapat dilakukan dengan melihatnya dari satu perspektif saja. Hal ini terutama berlaku bagi agama yang disebut dengan “Islam”. Agama Islam itu harus dikaji, ditelaah serta dicoba untuk dipahami dan akhirnya untuk dicari kebenarannya dengan tiga perspektif; fiolosofis, sosio-historis dan spiritual-mistikal. Tentu saja ini sejalan dengan trilogi Islam sepanjang zaman yang berupa wacana iman (filosofis), Islam (sosio-historis) dan ihsan (spiritual).[1]
Dari triologi Islam di atas, yaitu iman, Islam dan ihsan dapat diartikan kepada tauhid, fiqh dan tasawuf atau akhlak. Tasawuf merupakan salah satu bagian dari studi Islam yang banyak mendapatkan perhatian baik dari kalangan para peneliti muslim, maupun dari kalangan para peneliti barat. Sehubungan dengan itu telah banyak hasil kajian dan penelitian para ahli tersebut menginformasikan tentang pertumbuhan dan perkembangan tasawuf di berbagai belahan dunia Islam, sejak kedatangan Islam hingga saat ini. Karena tasawuf merupakan fenomena ekspresi keagamaan yang bersifat universal, maka kehadirannya tidak hanya di dunia Islam, melainkan di berbagai belahan dunia Barat dan Eropa lainnya. Melihat kenyataan ini, di dalam hasil kajian dan penelitian para ahli tersebut terkadang dijumpai pembahasan tentang hubungan antara tasawuf yang terdapat dalam dunia Islam dan di luar Islam.[2]
Dalam ranah praktisnya, tasawuf dilandasi atas dua prinsip. Pertama, upaya batin secara terus-menerus untuk menghubungkan antara seorang sufi dan Allah. Ke dua, kemungkinan menyatunya seorang sufi dengan Allah.


Prinsip yang pertama memasukkan al-ahwal dan al-maqamat[3], sedangkan prinsip yang kedua berupa al-wujud al-haq, al-maujud al-wahid al-ahad yang dalam naungan-Nya berkumpul segala yang wujud, dan kemungkinan mencapai-Nya sekira tiada yang abadi selain Dia[4].
Harun Nasution mengatakan bahwa tujuan mistisisme, baik di dalam maupun di luar Islam, ialah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan.[5] Intisari dari mistisisme, termasuk di dalamnya tasawuf, merupakan kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara roh manusia dan Tuhan, dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran ini selanjutnya mengambil bentuk rasa dekat dengan Tuhan.
Perasaan dekat dan mencintai Tuhan yang demikian tidak semata-mata ditujukan untuk memuaskan perasaan batin secara individual dan kesendirian berkontemplasi, melainkan akan memberi fibrasi, resonansi dan energi yang positif dan transformatif ke dalam diri manusia yang selanjutnya memberikan visi transendental terhadap pola pikir, ucapan, sikap, perbuatan dan kebijakan yang diputuskan oleh seseorang. Energi ini pada tahap selanjutnya akan dirasakan bukan hanya oleh yang bersangkutan, melainkan oleh orang lain dan lingkungan lainnya yang mendapatkan sentuhan darinya. Dalam konteks inilah, maka tasawuf tidak dapat lagi dipahami sebagai ekspresi yang bersifat individual, kontemplatif yang jauh dari lingkungan sosial,
melainkan ia merupakan bagian dari living value (nilai yang hidup) dan core value (nilai yang utama) yang dirasakan manfaatnya oleh umat manusia.[6]
Pengertian tasawuf menurut Zaki Mubarak memiliki kemungkinan asal usulnya; pertama, mungkin berasal dari Ibnu Sauf, yang sudah dikenal sebelum Islam datang sebagai gelar seorang anak Arab yang saleh, yang selalu mengasingkan diri dekat Ka’bah guna mendekati Tuhannya. Ia bernama Ghaus bin Murr. Kedua, mungkin berasal dari perkataan sufah yang dipergunakan untuk nama surat ijazah orang naik haji. Ketiga, mungkin berasal dari kata Yunani, sophia yang berarti hikmah atau filsafat. Keempat, mungkin berasal dari kata suffah, nama suatu ruang dekat Masjid Madinah, tempat Nabi Muhammad memberikan pengajarannya kepada para sahabat, seperti Abu Dzar al-Ghiffari dan lain-lainnya. Kelima, mungkin berasal dari kata suf yang berarti bulu domba, yang umumnya menjadi bahan pakaian orang-orang sufi dari Syria (Zaki Mubarak, Al-Tasawuf al-Islam fi al-Adab wal al-Akhlaq, Mesir, 1937).[7]
Kata tasawuf berasal dari tashawwafa-yatashawwafu-tashawwufan yang artinya bersih, murni, jernih. Pengertian ini mirip dengan zakka-yuzakki-tazkiyatan yang berarti membersihkan jiwa atau batin dari berbagai sifat yang buruk, seperti takabur, syirik, dusta, fitnah, buruk sangka, berbuat dosa dan maksiat. Sifat ini berbeda dengan sifat thaharah yang berarti membersihkan diri dari segi lahiriah dan fisik. Dengan demikian, kata tashawwuf mengacu kepada dimensi batin (esoteric) manusia, sebagai lawan dari dimensi lahir (exoteric) manusia. Dengan kedua dimensi ini, maka terdapat keseimbangan antara dimensi lahir dan batin. Jika kedua dimensi ini diperbandingkan antara satu dan lainnya, dalam pandangan tasawuf ternyata dimensi batin jauh lebih utama. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak :
“Sesungguhnya Allah tidak akan menilai kepada jasad dan rupamu tetapi Allah akan menilai hati dan amal perbuatan kamu sekalian”[8]
Pada prinsipnya tasawuf adalah bagian dari ajaran Islam. Tasawuf dikenal sebagai ajaran yang dapat menentramkan jiwa dan selalu bersifat sederhana, baik dalam pergaulan antar sesama, karena Islam dan tasawuf, ajaran dan ideologi-ideologi Islam bisa terjaga seutuh-utuhnya kalaulah dapat dikatakan ajaran Islam tidak perlu pada sistem-sistem tasawuf, mungkin ajaran itu semata-mata simbol baginya karena sifat amaliah dari hati yang bersih yang mana hal ini Cuma tertata dalam ajaran tasawuf.
Rasulullah adalah sosok kekasih Allah yang selalu hidup dalam keadaan sederhana, mulai dari segi makan, minum bahkan dalam berpakaian, tempat tidurnya terbuat dari tikar (pelepah kurma) tidak pernah memakai pakaian yang terbuat dari wol meskipun beliau mampu untuk membelinya. Singkat kata, Rasulullah lebih cinta hidup dalam suasana sederhana dari pada hidup bermewah-mewah.
Hal ini dilakukan supaya menjadi contoh bagi para sahabat dalam hidup sederhana dan meninggalkan bermewah-mewah dari segala aspek kehidupan duniawi beliau selalu bersikap sederhana dan cenderung beribadah melebihi dari pada mewahnya dunia. Ia sering tidak tidur malam, beribadah pada malam hari bermuwajahah kepada Allah sehingga ibadahnya kepada Allah tidak tertandingi. Itu semua dapat diartikan Rasulullah bersikap sederhana dalam masalah duniawi dan bermewah-mewah dalam urusan ukhrawi.
Demikianlah hidup Rasulullah yang selalu diwarnai oleh nilai-nilai kesederhanaan sebagai contoh dari pemimpin yang mulia dan pemimpin manusia yang tertinggi. Hal ini bertujuan untuk membuka mata para sahabat yang melihat, kemana dan untuk apa sebenarnya manusia itu hidup di dunia yang fana. Perbuatan Rasulullah tersebut membuka hati keluarga para sahabatnya lebih luas dari apa yang mereka miliki, sehingga tubuh –tubuh mereka yang kasar dapat menerima percikan-percikan nur ilahi. Sehingga dengan demikian terciptalah manusia yang benar-benar dapat hidup sederhana yaitu manusia yang mempunyai komitmen pada sifat adil, akhlak yang baik, cinta sesama dan itu semua terbalut dalam sifat Rasulullah yang sederhana.[9]
Perspektif tasawuf yang transformatif seperti itulah yang diinginkan oleh ajaran Islam sebagaimana yang terdapat di dalam al-Qur’an serta praktik kehidupan Rasulullah. Kegiatan kontemplatif, tahannus atau menyendiri dalam keheningan yang dilakukan Rasulullah di Gua Hira misalnya, dapat dilihat sebagai upaya merenungkan dan menemukan arah yang tepat tentang ke arah mana umat ini akan dibawa. Hasil perenungan tersebut ditemukan, bahwa umat ini harus dibawa menuju Tuhan, yakni mengamalkan ajaran Tuhan sehingga tercapai kebahagiaan hidupnya lahir dan batin. Dengan temuan spiritualitasnya inilah Nabi Muhammad melakukan langkah-langkah strategis yang sesuai dengan arahan Tuhan untuk melakukan perubahan dunia. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan dirasakan hasilnya hingga saat ini.
Upaya yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dalam membangun umat yang berbasis pada visi transendental sufistik selanjutnya dilakukan oleh sufi di abad-abad selanjutnya dengan tetap mengambil inspirasi pada ajaran yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Sunnah serta praktik kehidupan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad.[10]
B.     Misi Ajaran Tasawuf
Misi ajaran tasawuf tidak jauh berbeda dengan misi ajaran Islam, karena ajaran tasawuf merupakan salah satu dari trilogi ajaran Islam. Konsep dasar tasawuf pada simpul rahmatan lil ‘alamin, dimana memandang bahwa memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan umat manusia adalah wajib hukumnya. Hal inilah yang menjadi konsepsi tasawuf pada sahabat Nabi yang pilihan, yang atsarnya jelas harus kita ikuti. Mereka membagi kehidupannya untuk perjuangan umat, masyarakat dan negara di satu pihak, sisa waktunya dipergunakan untuk bermujahadah dengan mengutamakan kebersihan batin dan rohani menghadap sang ilahi.
Dengan demikian, dapat diketahui bahwa ilmu tasawuf merupakan tuntunan yang dapat menyampaikan manusia kepada mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, makrifat sehingga merupakan jalan yang sebaik-baiknya untuk mengenal Allah, lalu mengenal dirinya sendiri (makrokosmos dan mikrokosmos) untuk kemudian menggabungkan iradah dan qudrah antara keduanya, guna menuju liqa’illah, dengan intinya adalah proses zikir. Maka, tujuan akhir ilmu tasawuf adalah memberi kebahagiaan kepada manusia, baik dunia maupun akhirat, dengan puncaknya menemui dan melihat Tuhannya.
Harun Nasution menyebutkan bahwa tasawuf mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan sehingga disadari benar seseorang berada di hadirat Tuhan. Sementara tasawuf sebagai ilmu pengetahuan, mempelajari cara dan jalan bagaimana seorang muslim dapat berada sedekat mungkin dengan Allah. Dengan kata lain tujuan sufi adalah mendekatkan diri sedekat mungkin dengan Tuhan sehingga ia dapat melihat-Nya dengan mata hati, bahkan ruhnya dapat bersatu dengan ruh Tuhan.
Di atas telah dikemukakan bahwa tasawuf merupakan bagian dari syari’at Islam yang tentunya ditegakkan di atas landasan al-Qur’an, terutama selama menyangkut perilaku sufisme. Selain itu, juga didasarkan pada atsar Nabi, dalam sunnah dan haditsnya, yang dikuatkan oleh praktik para sahabat terdekat dan terpercaya dari Rasul. Dasar konsepsional Qur’aniah dan sunnah itu meliputi keadaan jiwa seorang sufi (hal) dan maqam (tingkatan serta tahap penempuhan) seorang salik. Hal adalah kondisi sikap (psikologis, sosiologis dan antropologis yang bersifat inner-cycle dalam diri seorang salik yang berasal dari Allah) yang diperoleh seseorang dengan tanpa melalui latihan.[11]
Seorang salik (penempuh jalan tasawuf) harus menjaga diri dari ghirah (kecemburuan) Allah dan Rasul-Nya, yaitu Allah dan Rasul-Nya ghirah ketika seorang hamba melakukan perbuatan yang dilarang dan mengabaikan perintah Allah. Ketika Allah ghirah maka Allah memberikan hukuman yang telah ditetapkan dalam syari’at yang dibawa oleh Rasul-Nya. Ghirah pada hukum syari’at hukumnya adalah wajib. Seorang mukmin akan emosi dan marah ketika melihat orang lain melanggar larangan-larangan Allah. Ia juga melawan orang yang mencederai agama Allah atau melecehkan hukum-Nya. Dengan demikian, ilmu tasawuf menuntut menuntut kepada mukmin agar menjaga diri dari lumbung kemaksiatan.[12]
 Berdasarkan petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah, dijumpai berbagai misi yang akan dilaksanakan ajaran Islam sebagai berikut :
Pertama, mengeluarkan manusia dari kehidupan zhulumat (gelap gulita) kepada kehidupan yang terang benderang, sesuai dengan firman Allah dalam surat Ibrahim ayat 1, surat al-Ahzab ayat 43 dan surat al-Hadid ayat 9. Ayat-ayat tersebut menunjukkan adanya perintah Allah kepada Nabi Muhammad agar mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang terang benderang. Kegelapan pada ayat ini dapat diartikan kebodohan, karena orang yang bodoh tidak dapat menjelaskan berbagai hal dalam kehidupan yang amat luas dan kompleks. Sedangkan cahaya yang terang benderang dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan, karena dengan ilmu pengetahuan itulah semua kejadian ataupun peristiwa di alam ini dapat dijelaskan dengan terang benderang.
Kedua, memberantas sifat jahiliyyah, yang dimaksud dengan jahiliyyah bukanlah orang yang bodoh, melainkan bodoh dalam arti memilih hal-hal yang sesungguhnya bersifat sementara, relatif dan dapat binasa, bahkan hilang sebagai hal yang prinsip dan harus dipertahankan dengan mengorbankan apa saja. Mereka lebih memilih harta, tahta dan kasta, dari pada memilih keadilan, kesejahteraan, kemanusiaan, keimanan dan ketakwaan yang akan menyelamatkan dan memuliakan mereka di dunia dan akhirat.
Ketiga, menyelamatkan manusia dari tepi jurang kehancuran disebabkan pertikaian dalam memperebutkan hal-hal yang tidak essensial, yaitu memperebutkan harta, tahta dan kasta.
Keempat, melakukan pencerahan batin dan pikiran kepada manusia agar sehat jiwa, akal dan jasmani.
Kelima, memperbaiki akhlak mulia. Misi ini sejalan dengan misi perbaikan jiwa dan pola pikir sebagaimana sebelumnya. Akhlak yang mulia adalah buah jiwa dan pola pikiran yang sehat serta hasil atau dampak dari iman, Islam dan ihsan. Misi ini sesuai dengan hikmah diutusnya Rasulullah yaitu memperbaiki akhlak manusia.[13]
Seseorang yang tidak mempelajari tasawuf dan tidak mengamalkan maka harus diketahui bahwa seseorang tersebut terhijab dan lalai dari mengingat Allah.
Dalam ajaran tasawuf, cara untuk membuka hijab dan dekat dengan Allah, yaitu membersihkan dan mensucikan diri dari dosa lahir dan batin.[14]
C.    Pengertian Masyarakat Modern
Masyarakat modern terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Sesuai kutipan Abuddin Nata, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia W.J.S Poerwadarminta mengartikan kata “masyarakat” sebagai pergaulan hidup manusia (himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan yang tertentu). Sementara kata “modern” diartikan sebagai yang terbaru, secara baru, mutakhir”. Kemudian Abuddin Nata menyimpulkan, bahwa secara harfiah kata “masyarakat modern” dapat dimaknai dengan suatu himpunan orang yang hidup bersama di suatu tempat dengan ikatan-ikatan aturan tertentu yang bersifat mutakhir”[15].
Ciri-ciri Masyarakat Modern
Masih merujuk Abuddin Nata, masyarakat modern sering dikomparasikan dengan masyarakat tradisional. Dalam hal ini Deliar Noer memberikan ciri-ciri modern sebagai berikut:
1.      Rasional, Lebih memprioritaskan akal fikiran daripada emosi, pekerjaan selalu dipertimbangkan untung ruginya secara logis.
2.      Berfikir progresif untuk kepentingan masa depan, tidak hanya memikirkan masalah yang bersifat pragmatis, tetapi melihat dampak sosialnya.
3.      Menghargai waktu. Melihat waktu sebagai hal yang sangat berharga dan perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
4.      Open minded (terbuka). Mau menerima saran, masukan, baik berupa kritik, gagasan dan perbaikan dari manapun.
5.      Objektif. Melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaannya untuk kehidupan bermasyarakat[16].

D.    Problematika Masyarakat Modern
Menurut Azyumardi Azra, modernitas modernisasi tidak selalu berhasil menemui janji-janjinya bagi peningkatan kesejahteraan kaum Muslimin, baik lahir maupum batin. Sebaliknya, modernisasi yang diikuti oleh globalisasi yang kian tak terbendung memunculkan problematika yang sangat kompleks dalam kehidupan manusia; mulai dari meningkatnya hidup materialistik, dan hedonistik, sampai disorientasi dan dislokasi sosial, politik, dan budaya[17].
Selain itu, masyarakat modern juga bersifat totaliteristik (ingin menguasai semua aspek kehidupan), eksploris, dan hanya percaya kepada rumus-rumus empiris saja, serta sikap hidup positivistis yang berdasarkan kemampuan akal. Pada masyarakat yang berjiwa dan bermental seperti ini, ilmu pengetahuan dan teknologi modern sangat mengkhawatirkan. Mereka akan menjadi penyebab kerusakan di muka bumi, sebagaimana firman Allah Swt:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (Q.S. : Ar-Rum : 41)
Secara praktis problematika masyarakat modern dapat disebutkan sebagaimana berikut:
Penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi karena terlepas dari spriritualitas. Kemampuan membuat senjata telah diarahkan untuk tujuan menjajah bangsa lain. Pada saat ini, paling tidak terjadi lebih dari 35 pertikaian besar antaretnis di dunia. Lebih dari 38 juta jiwa terusir dari tempat yang mereka diami. Pertikaian ini terjadi dari Barat sampai Timur. Dunia menyaksikan darah mengalir di Cekoslakia, Zaire, Rwanda, Sudan, dan Srilanka. Kebengisan manusia modern ini masih ditambah dengan intervensi Barat di berbagai kawasan, seperti Libya, Suria, Yaman, Irak, dan lain sebagainnya[18].
Desintegrasi ilmu pengetahuan. Adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan, masing-masing ilmu pengetahuan memiliki paradigma tersendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi. Bila seseorang menghadapi masalah, lalu berkonsultasi kepada teolog, ilmuwan, politisi, psikiater, dan ekonom, misalnya, mereka akan memberi jawaban yang berbeda-beda dan terkadang saling bertolak belakang. Hal ini pada akhirnya membingungkan manusia[19].
Pola hubungan materialistik memilih pergaulan atau hubungan yang saling menguntungkan secara materi. Menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan mengenyampingkan nilai-nilai ajaran agama.
Kepribadian yang terpecah (split personality). Karena kehidupan manusia modern dibentuk oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering dari nilai-nilai spiritual dan terkotak-kotak, akibatnya manusia menjadi pribadi yang terpecah. Jika proses keilmuan yang berkembang tidak berada di bawah kendali agama, maka proses kehancuran pribadi manusia akan terus berjalan. Dengan demikian, tidak hanya kehidupan saja yang mengalami kemerosotan, tetapi juga tingkat kecerdasan dan moral.
Stress dan frustasi. Jika tujuan tidak tercapai, sering berputus asa bahkan tidak jarang yang depresi.
Kehilangan harga diri dan masa depan. Jika kontrol nilai agama telah terlepas dari kehidupan, maka manusia tidak lagi punya harga diri dan masa depan.
Masyarakat modern mengalami kehampaan dan ketidakbermaknaan hidup. Keberadaannya tergantung kepada pemilikan dan pengasaan simbol kekayaan, keinginan mendapatkan harta yang berlimpah melampaui komitmennya terhadap solidaritas sosial. Hal ini didorong oleh pandangan, bahwa orang yang banyak harta merupakan manusia unggul[20].
E.     Pengaruh Tasawuf Dalam Masyarakat Modern
Dalam kehidupan yang semakin cenderung materialistis, hedonistik dan sekularistik seperti saat ini, banyak manusia yang merasa terasing dalam kehidupannya. Mereka merasakan kehampaan dalam hidup, merasa tidak bermakna serta tidak memiliki arah yang akan dituju. Akibatnya hidup mereka terombang ambing ibarat kapal di tengah samudera yang tidak memiliki arah dan tujuan kemana ia akan berlayar. Dalam keadaan demikian, tidak mengherankan jika tempat hiburan, restoran, tempat rekreasi, makanan, minuman dan berbagai kemewahan hidup diciptakan untuk mengisi kekosongan jiwa. Hal ini dapat berhasil namun hanya sesaat saja. Setelah itu mereka kembali kepada kehampaan. Untuk mengatasi keadaan yang demikian, maka diperlukan pegangan hidup berupa iman, takwa dan tasawuf. Lebih dari itu, tasawuf saat ini memperoleh perhatian yang sangat besar dan mengalami transformasi dan reformulasi penafsiran yang semakin kontekstual dan aktual. Bertasawuf bukan lagi dipahami sebagai hidup menyendiri dan terisolasi dari hiruk pikuk keramaian dunia. Tasawuf di masa sekarang lebih dipahami sebagai upaya menyerap dan merasakan kehadiran keagungan Tuhan dalam diri seseorang yang selanjutnya melahirkan sikap dan etos kerja yang semakin tinggi yang selanjutnya digunakan sebagai spirit dalam menggerakkan berbagai usaha dan korporate. Dengan tasawuf seseorang memiliki visi transendental yang selanjutnya digunakan dalam menggerakkan usaha bisnis. Dengan visi tasawuf maka kegiatan bisnis selalu diarahkan pada memberikan pelayanan yang baik kepada manusia, berusaha menjaga mutu, tidak berani melakukan kecurangan, karena dalam kerja merasa selalu diawasi Tuhan, yang selanjutnya ia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di akhirat kelak.
Kemudian, dengan mempelajari tasawuf, diharapkan setiap orang dapat merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya, selalu memelihara, menjaga dan menyucikan diri dari perbuatan tercela dan menghiasinya dengan akhlak mulia.[21]
Selanjutnya, dalam kehidupan di era globalisasi seperti sekarang ini, ajaran yang menekankan spiritualitas sebagaimana yang dijumpai dalam ajaran tasawuf tersebut mulai mendapat perhatian kembali. Berbagai bahan bacaan keagamaan yang dijumpai pada berbagai toko buku misalnya, sebagian besar dipenuhi oleh buku-buku yang bernuansa tasawuf. Munculnya fenomena ini menunjukkan, bahwa perasaan, pola pikir, ucapan dan perbuatan masyarakat di era globalisasi yang didasarkan pada pandangan materialisme, hedonisme, kapitalisme, pragmatisme dan berbagai pandangan sekuler lainnya sudah tidak memadai lagi. Jiwa mereka tampak guncang, rapuh, mudah stres dan mudah konflik. Jiwa mereka terbelah, tidak utuh lagi, ada yang hilang dan karenanya tidak siap menghadapi berbagai tantangan hidup yang demikian keras dan penuh persaingan. Mereka kini tengah berusaha menemukan kembali keutuhan jiwanya yang hilang, yakni pemenuhan hidup yang bersifat spiritual, sebagai konsekuensi logis dari sebuah pandangan yang benar, bahwa manusia bukan hanya terdiri dari jasmani dan akal pikiran saja, melainkan memiliki rohani yang berasal dari hembusan ilahiah. Rohani mereka ini telah diabaikan, dibiarkan kosong, terbengkalai dan akibatnya mereka mudah gelisah, tegang, cemas, stres, putus asa, merasa keterasingan dan kesendirian.[22]
Dengan demikian, dapat kita ketahui pula bahwa salah satu tujuan tasawuf –di samping yang sudah disebutkan- adalah membawa manusia setingkat demi setingkat menuju kepada Tuhan, seperti yang dikemukakan oleh Imam al-Ghazali dalam kitab Minhaj al-‘Abidin. Imam al-Ghazali mengemukakan ada 40 tingkat guna sampai kepada Allah, yang ke 40 tingkat itu disebut kemuliaan dan persalinan Tuhan, yang meliputi 20 tingkat di dunia dan 20 tingkat di akhirat.
Adapun tentang 20 tingkat di dunia, kemana arah tasawuf membawa manusia, yaitu :
1.      Manusia selalu mengingat dan menyebut Allah.
2.      Selalu bersyukur dan membesarkan Allah.
3.      Selalu mencintai Allah dan dicintai oleh sesama manusia.
4.      Selalu menjadikan Allah wakilnya dalam segala pekerjaan.
5.      Beroleh ketentraman dalam mencari rezeki karena jaminan Allah.
6.      Memperoleh pertolongan dari Allah terhadap gangguan musuh-musuhnya.
7.      Hatinya selalu menjadi tenteram dalam segala hal dengan keadaan tidak pernah cemas dan takut.
8.      Memperoleh kemuliaan di dunia dan tidak mengharap dimuliakan oleh manusia serta orang-orang besar lain.
9.      Tinggi hikmahnya dan terpelihara dari kecemasan.
10.  Mulia dan lapang hati.
11.  Memperoleh petunjuk yang terang benderan sehingga mudah memperoleh ilmu dan hikmah.
12.  Terjauh dari kesusahan dan kerusuhan dunia.
13.  Membawa manusia kepada kehebatan yang dikagumi orang (namun tidak bertujuan mencari).
14.  Dicintai sesama manusia, makhluk dan Tuhan.
15.  Memperoleh barakah dari perkataan, pribadi, pakaian dan tempatnya.
16.  Memperoleh makrifat di bumi dan lautan.
17.  Menghilangkan ketakutan terhadap binatang buas.
18.  Memperoleh kekuasaan, seolah ia memegang kunci perbendaharaan bumi yang luas.
19.  Dapat menyampaikan segala hajat makhluk Tuhan yang lain dengan kemegahan kepada Tuhan.
20.  Mudah terkabul doa oleh Tuhan.
Kedua puluh hal itu merupakan kejadian-kejadian yang bisa berlaku di dunia, sementara 20 hal yang berhubungan dengan kehidupan akhirat, yaitu :
1.      Mudah dan tidak takut menghadapi mati.
2.      Tetap hatinya kepada makrifat dan iman yang bisa menghilangkan ketakutan, kecemasan, teriak dan tangis.
3.      Dianugerahi oleh Tuhan keharuman, kesenangan dan bau-bauan serta nikmat yang berlimpah-limpah dalam kuburnya dan di hari kiamat.
4.      Kekal di dalam syurga dan selalu berhampiran dengan Tuhan yang pemurah.
5.      Mayatnya dihormati oleh manusia dan malaikat.
6.      Terbebas dari pertanyaan Munkar dan Nakir dalam kubuar, begitu pula terbebas dari kesusahan kubur.
7.      Kubur menjadi lapang dan terang benderang.
8.      Ruhnya tenang dalam kesenangan, kesukaan dan kemuliaan.
9.      Di kala berkumpul di padang Mahsyar, memperoleh keistimewaan dan keagungan.
10.  Bermuka putih dan bercahaya, melihat kepada Tuhannya dengan senyum yang menggembirakan.
11.  Sentosa dan sejahtera dari kesusahan serta siksa hari kiamat.
12.  Memperoleh pengitungan hisab dan ada yang tidak di hisab sama sekali.
13.  Menerima kitab laporan di hari kiamat dengan tangan kanan sehingga mendapatkan pengampunan.
14.  Amal kebaikannya memberatkan timbangannya.
15.  Memperoleh kesempatan minum dari telaga haudi, telaga para Nabi.
16.  Lulus dan selamat ketika melampaui Shirat al-Mustaqim.
17.  Memperoleh syafa’at Nabi.
18.  Memperoleh kedudukan yang abadi di syurga.
19.  Memperoleh kenikmatan Tuhan yang tidak terhingga besarnya.
20.  Berjumpa dengan Tuhan.[23]
Hal tersebut di atas adalah beberapa hasil dari mempelajari ilmu tasawuf dan mengamalkannya.
Ilmu tasawuf sangat susah untuk diamalkan di daerah perkotaan yang penuh dengan kemewahan dan glamor kehidupan. Manusia yang tinggal di daerah perkotaan yang berada dalam kehidupan era globalisasi yang penuh dengan persaingan dalam memperebutkan lapangan kerja, tempat tinggal, tempat berjualan, jalur transportasi, pendidikan, kesehatan dan lain sebagainya. Di antara mereka yang bersaing tersebut ada yang berhasil karena didukung oleh berbagai faktor; uang, koneksi, keterampilan, pengalaman dan pendidikan dan banyak pula yang tidak berhasil karena hanya memiliki modal nekat. Mereka yang tersebut terakhir ini menjadi tersingkir dan selanjutnya menjadi gelisah, cemas, stres dan frustasi dalam menghadapi kehidupan, yang akhirnya menjadi hilang kesadaran dan akal sehatnya alisa gila. Sementara itu ada pula yang telah berhasil mendapatkan berbagai jabatan, kedudukan dan kemewahan lainnya menjadi sombong, lupa pada Tuhan, gemar berfoya-foya, melakukan pemborosan dan melakukan berbagai tindakan yang dilarang Allah. Untuk menghadapi keadaan masyarakat yang demikian itu diperlukan ajaran tasawuf.[24]
Dengan demikian, orang-orang yang hidup di perkotaan dan bermewah-mewah sudah mulai mendekati ilmu tasawuf karena untuk menentramkan jiwa mereka sehingga menyebabkan meningkatnya jumlah masyarakat untuk mempelajari tasawuf. Terdapat sejumlah alasan tentang sebab-sebab meningkatnya masyarakat terhadap tasawuf, sebagai berikut :
Pertama, salah satu ciri kehidupan masyarakat modern ialah terlalu mengandalkan akal dan fisik, atau hanya mengakui sesuatu yang tidak masuk akal dan tampak dalam pandangan, yang selanjutnya melahirkan paham rasionalisme, empirisme, positivisme, sekularisme, hedonisme dan pragmatisme. Paham yang demikian sangat merugikan keutuhan manusia sebagai makhluk yang selain memiliki panca akal dan panca indra, juga memiliki hawa nafsu, dzauq, sirr dan lainnya. Berbagai potensi rohaniah ini sesuatu yang real yakni ada dengan sesungguhnya, sebagaimana juga akal dan fisik. Akibat dari keadaan hidup yang hanya mengutamakan akal dan panca indra ini, maka manusia menjadi robot dan mesin yang kehilangan keutuhannya. Akibat dari keadaan demikian, manusia menjadi tidak utuh, merasa terasing, kesepian, rapuh, tidak punya pilihan dan pegangan hidup yang kukuh, yakni nilai-nilai spiritualyang berasal dari Allah. Untuk menyelamatkan dari keadaan yang demikian perlu ajaran tasawuf.
Kedua, masyarakat modern yang bergerak dalam bidang jasa dan industri dengan berbagai aneka ragamnya semakin memerlukan nilaii-nilai spiritual yang dapat memberikan bekal dan pegangan yang kukuh bagi usahanya itu. Menjadi sufi di masa modern saat ini tidak mesti dengan cara pergi bertapa ke gunung, atau mengisolasikan diri ke tempat yang sunyi, atau membiarkan hidup miskin dan sengsara. Pandangan tasawuf yang demikian itu kini telah diganti dengan pandangan tasawuf yang transformatif dan integrated, yaitu nilai-nilai tasawuf seperti kesederhanaan, kejujuran, keikhlasan, kehati-hatian, kesabaran, keteguhan dan prinsip, kepercayaan yang teguh pada Tuhan. Keyakinan pada janji Tuhan dan nilai-nilai ajaran tasawuf lainnya ternyata sangat dibutuhkan dalam mengelola berbagai usaha bisnis di zaman modern.
Ketiga, ajaran selalu dekat dengan Allah, sebagaimana yang diajarkan dalam tasawuf dan kesungguhan dalam membersihkan diri dari dosa serta kesungguhan mencari keridhaan Allah saat ini ternyata juga digunakan dalam proses penyembuhan berbagai penyakit. Masyarakat modern saat ini sudah mulai sadar, bahwa di antara penyakit ada yang penyebabnya adalah karena hubungan yang tidak baik dengan Tuhan. Oleh karena itu, proses penyembuhannya dapat dilakukan dengan mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana yang diajarkan dalam tasawuf.
Keempat, bahwa jumlah orang yang gelisah, pikiran kacau, stres dan gejalapenyakit kejiwaan lainnya saat ini makin banyak jumlahnya. Keadaan jiwa yang demikian itu menyebabkan produktivitas kerjanya menurun dan ketentraman hidup makin terancam. Masyarakat modern yang demikian itu makin membutuhkan sentuhan ruhani dan pencerahan spiritual yang dapat mengembalikan kehidupannya menjadi lebih nyaman, tenang, tenteram, damai dan harmonis yang selanjutnya sangat dibutuhkan guna meningkatkan produktivitasnya.[25]


[1] Muhammad Solikhin, Tradisi Sufi Dari Nabi, (Yogyakarta: Cakrawala, 2009), hal.2.

[2] Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, (Jakarta: Kencana, 2011), hal.311.

[3] Al-maqamat bentuk plural dari kata al-Maqam, yang dalam dunia tasawuf diartikan sebagai prestasi religius berupa adab (etika) yang diperoleh seorang hamba sebagai hasil jerih payahnya. Maqam  setiap orang adalah posisi di mana dia berupaya dan menyibukkan diri dengan riyadah. Syaratnya adalah ia tidak berpindah dari suatu maqam ke maqam lain sebelum memenuhi hukum-hukum yang ada pada maqam pertama. Maka seseorang yang tidak mempunyai etika qana’ah maka tidak sah baginya maqam  tawakkal. Orang yang tidak mempunyai etika tawakkal maka tidak sah baginya maqam taslim. Orang yang begitu pula orang yang tidak beretika dengan taubah maka tidak sah beretika dengan inabah. Orang yang tidak wara’ maka tidak bisa zuhd. Sedangkan al-ahwal adalah bentuk plural dari kata al-hal. Menurut para sufi, al-hal dipahami sebagai kondisi yang datang di hati tanpa suatu upaya, seperti tarb (bingung), hazn (sedih), shauq (rindu), dan semisalnya. Maka al-ahwal merupakan pemberian Allah, sedangkan al-maqamat merupakan hasil jerih payah manusia. Baca, Abd al-Rahim al-Qusyairi, ar-Risalah al-Qusyairiyah (Kairo: Dar al-Ma’arif, tt.), Juz I, hal. 153-154.
[4] Ibid., hal. 19

[5] Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, jilid II, (Jakarta: UI-Press, 1979), hal.71.

[6] Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Op.cit,, hal.312.

[7] Muhammad Solikhin, Tradisi Sufi Dari Nabi, Op.cit, hal.18.

[8] Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Op.cit, hal.314.
[9] Muslim Thahiry, dkk, Wacana Pemikiran Santri Dayah Aceh, (Aceh: BRR NAD-NIAS, PKPM Aceh dan Wacana Press, 2007), hal.391-392.

[10] Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Op.cit, hal.312.
[11] Muhammad Solikhin, Tradisi Sufi Dari Nabi, Op.cit, hal.82-83.

[12] M. Abdul Qadir Abu Faris, Menyucikan Jiwa, terj. Habiburrahman Saerozi, (Jakarta: Gema Insani, 2005), hal.68.
[13] Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Op.cit, hal.95-98.

[14] Muslim Thahiry, dkk, Wacana Pemikiran Santri Dayah, Op.cit, hal.445.
[15] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta Utara: Rajawali Press, 2011), cetakan ke-10,  hal. 279.
[16] Ibid., hal. 280
[17] Azyumardi Azra, Sufisme dan “yang Modern”  Kata Pengantar dalam Urban Sufism (Martin van Bruinessen dan Julia Day Howell, ed.) (Jakarta: PPIM UIN Syarif Hidayatullah, Penerbit Raja Grafindo Persada, Ford Foundation Jakarta Grifith University Australia, dan ISIM, 2008), hal. iv.
[18] Akhmad Sodiq, Tasawuf: dari Kesucian diri ke Kedamaian Univesal. Makalah disampaikan dalam Seminar Sehari dalam rangka Harlah NU ke 85 “Revitalisasi Sufi untuk Perdamaian Dunia, di Hotel Prime Royal, Jl. Kranggan Surabaya, Sabtu, 2 Juli 2011, hal. 1.
[19] Ibid., hal. 2.
[20] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf…..,hal. 289-290.
[21] Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Op.cit, hal.5-6.
[22] Ibid.....,hal.313.
[23] Muhammad Sholikhin, Tradisi Sufi Dari Nabi, Op.cit, hal.73-76.
[24] Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Op.cit, hal.313.
[25] Ibid...., hal.329-330