Minggu, 30 Maret 2014

Filosofi Binatang


FILOSOFI BINATANG
Habibullah

Akhir-akhir ini warga Indonesia (umumnya) dan masyarakat Aceh (khususnya) sedang dihadapkan dengan pemilu yang akan datang, baik pemilihan Presiden maupun calon legislatif (caleg) untuk menduduki kursi panas yang bergoyang dalam mewakili daerah masing-masing, sehingga sebagian orang berlomba-lomba mendaftarkan diri sebagai calon presiden maupun caleg, baik melalui jalur independen ataupun melalui partai yang akan mengusungnya.
Sebelum dimulainya kampanye, masing-masing dari calon memikirkan buah hasil pemikirannya untuk dijadikan visi dan misi yang bersifat janji kepada masyarakat sehingga masyarakat akan merasa tertarik dan memilihnya dalam pemilu nanti.
Tetapi, apakah janji tersebut yang tertera dalam misi akan dipenuhi ?? inilah faktor yang menyebabkan masyarakat enggan dalam memilih (golput) karena trauma dengan pilihan mereka yang sudah-sudah dan mereka tidak ingin lagi termakan bujuk rayu janjian manis.
Ideologi yang terjadi sekarang ini dalam masyarakat bahwa sedikit sekali dan bahkan tidak ada lagi yang benar-benar ingin membenahi daerahnya dalam menunjang kesejahteraan hidup. Ini disebabkan karena para calon mengadopsi filosofi yang bersifat materialisme, bahwa tidak ada sesuatu apa pun kecuali dunia material, kebalikan dari makna la ilaha illallah. Filosofi yang seperti ini dapat menjadikan manusia berwatak egoistis, rakus dan hina dina, termasuk juga orang-orang yang mempertahankan kesalahan demi kehormatannya sendiri.
Filosofi seperti ini juga lah yang membuat seseorang lebih mengedepankan material demi kehidupannya untuk makan, minum dan seks. Kalau filosofi ini diadopsi oleh para calon, maka tak ada bedanya dengan filosofi binatang yang hanya mementingkan diri sendiri tanpa melihat hak-hak, kepentingan dan kesengsaraan orang lain. Inilah yang menjadikan sebagian masyarakat berfikir bahwa para calon yang ingin duduk di kursi panas bergoyang semata-mata hanyalah untuk memperbaiki kehidupannya dan mencari kehormatan yang tinggi di mata masyarakat. Jikalau filosofi sudah menyatu dan melekat pada seseorang, maka ruang lingkup kehidupannya hanya terbatas kepada struktur material semata.
Akan tetapi sedikit sekali para calon yang terpilih yang menyadari pentingnya sarana-sarana material yang sudah didapatnya dalam hidupnya dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin dan menganbil keuntungan dari daya guna dan kekuatannya dan menyadari bahwa semua ini merupakan karunia yang dianugerahkan sang Khaliq terhadap dirinya dalam mengemban amanah orang lain.
Apabila para calon yang terpilih kelak memiliki kesadaran seperti itu, maka hal tersebut yang akan mendorongnya untuk menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan menghargai hak-hak dan mementingkan kepentingan orang lain dari pada kepentingannya sendiri. Bagi orang yang berfilosofi seperti ini, harta kekayaan dipandang hanya sebagai sarana, bukan tujuan. Materi dimanfaatkan demi menggapai keluhuran, kualitas moral dan spiritual yang lebih baik dan orang yang seperti inilah yang patut dikatakan sebagai pemimpin atau perwakilan yang mampu mengemban amanah dan bukan mengobral janji belaka.
            Penulis menyadari bahwa untuk menjadi pemimpin ataupun perwakilan rakyat bukanlah yang mudah tapi karena saudara sudah mendaftarkan diri sebagai calon pemimpin atau perwakilan rakyat, berarti anda sudah merasa mampu dalam mengemban amanah dan akan mementingkan amanah tersebut. Maka embanlah amanah tersebut sebaik mungkin dan hilangkan ideologi masyarakat terhadap buruknya kenerja pemimpin ataupun anggota dewan. Dan buang jauh-jauh filosofi binatang yang hanya mementingkan perut sendiri tanpa mementingkan perut orang lain.
            Dalam pemilihan yang akan datang, masyarakat harus lebih bijak dan benar-benar teliti dalam memilih calon. Masyarakat harus menggunakan kaca pembesar dari berbagai perspektif dalam melihat tingkah laku dan sikap sehari-hari para calon dan yang paling utama adalah ibadahnya kepada Allah, karena kalau para calon berani menipu Allah, sudah tentu dia akan berani menipu masyarakat, menyelewengkan amanah dan bertindak sewenangnya saja tanpa adanya musyawarah.
            Saya minta maaf apabila menyinggung pihak-pihak tertentu, penulis tidak ada maksud untuk menyinggu pihak tertentu, penulis juga hamba Allah yang mempunyai hak untuk mengungkapkan rasa kekecewaan dan tulisan ini semata-mata hanya untuk membangun spirit para calon ke depan dalam mewujudkan visi dan misi masing-masing. Penulis akhiri dengan beberapa bait syair :
Jangan mengumbar janji yang tak pasti
Yang membuat masyarakat berkhayal tingkat tinggi
Namun akhirnya menjadi mimpi yang tak pasti
Dan berujung halusinasi
Wallahu a’lam